22 Hari Kapten Philip Disandera OPM

Harian Berita – Susi Pudjiastuti selaku pemilik maskapai penerbangan Susi Air, mengaku prihatin pilot pesawatnya, yakni Kapten Philip Mark Mehrtens masih disandera Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) di Papua, sejak Selasa (7/2) lalu.

“Beberapa hari ini kalau dihitung sudah dari kejadian penyanderaan dan pembakaran pesawat Susi Air ini sudah 22 hari. Kita semua prihatin, berduka,” ujar Susi ketika melakukan konferensi pers, Rabu (1/3).

Meski demikian Susi tetap berharap Kapten Philip bisa segera dibebaskan tanpa syarat.

“Kita semua prihatin, berduka, dan kita tetap berharap dan berdoa bahwa akhirnya pilot kita Philip Mark Mehrtens bisa dibebaskan tanpa syarat,” kata Susi.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD sebelumnya menyebut, aparat keamanan hampir menyerbu kelompok tersebut. Namun pihak Selandia Baru meminta supaya tak ada tindakan kekerasan untuk membebaskan warga negaranya.

Pencarian Masih Dilakukan, Polisi Utamakan Keselamatan Pilot Susi Air

Sebagai syarat jika pemerintah ingin pilot asal Selandia Baru itu bebas, KKB meminta agar Philip bisa ditukar dengan senjata api dan amunisi. Mahfud pun menegaskan pemerintah tidak akan mengabulkan syarat tersebut.

“Tidak mungkin, masak kita berikan senjata kepada pemberontak. Ada taktik dan strategi yang dilakukan aparat kita,” kata Mahfud di Surabaya, Selasa (28/2).

Ia menjelaskan, jika aparat keamanan akan terus berusaha membebaskan Philip. Mahfud juga mengatakan nyawa dan keselamatan pilot itu diutamakan.

“Kalau mau disergap bahaya itu. Kita sudah bicara untuk mengutamakan keselamatan pilot,” jelas Mahfud.

Negara, kata Mahfud, pasti menyiapkan langkah dan strategi untuk penyelamatan Kapten Philip. Mahfud juga menuturkan saat ini Philip dalam kondisi sehat.

“Pokoknya kita menyelamatkan orang dulu. Tapi tidak mungkin kita ngasih, satu kemerdekaan, dua ngasih senjata, tidak bisa,” tambahnya.

Kendala Penyelamatan

Sementara itu, Panglima TNI Laksamana Yudo Margono menyebutkan adanya beberapa kendala dalam pembebasan Philip. Salah satu kendalanya adalah Kelompok KKB bercampur dengan masyarakat setempat.

“Pilot masih tetap kita usahakan dicari. Karena tentunya di dalam situasi seperti ini mereka ini kan bercampur dengan masyarakat, sehingga TNI juga harus hati-hati di dalam melaksanakan tugasnya untuk menyelamatkan itu,” kata Yudo di Jakarta, Senin (27/2).

Yudo menjelaskan jika operasi penyelamatan pilot berkebangsaan Selandia Baru ini akan terus dilakukan dengan memaksimalkan prajurit yang berada di Papua dan tak ada penambahan pasukan.

“Kita optimalkan prajurit yang berada di sana, karena yang kita hadapi juga bukan musuh yang tetap, kemudian bisa berhadapan, bukan. Jadi gerombolan yang tempatnya berpindah-pindah dan bersama sama dengan penduduk. Dan ini kan tidak mudah untuk mengambil dari penduduk ini,” jelas Yudo.

Dalam menyelamatkan Philip, Yudo menyebut tak ada target yang ditetapkan pihaknya. Ia mengatakan TNI takĀ  ingin ada penduduk yang menjadi korban.